Paguron Sinar Banten, 50 Tahun Menjaga Warisan Leluhur

Senin, 30 September 2019

Dalam sebuah pertunjukan, tampak seorang seniman debus menarik sebuah mobil. Kendaraan jenis jeep dengan berat kurang lebih 2 ton tersebut, ditarik menggunakan kawat yang dikaitkan ke kulit punggungnya. Para penonton dibuat berdebar-debar, namun akhirnya ia berhasil menarik mobil tersebut sejauh 150 meter, dalam waktu kurang dari empat menit.

Atraksi itu mendapatkan penghargaan dari Original Rekor Indonesia (ORI). Atraksi yang merupakan salah satu pertunjukan dalam rangka Milangkala ke-50 Paguron Sinar Banten (PSB) itu, digelar di Dome Bale Rame Soreang, Sabtu (21/9/2019) lalu. Selain kepada Devi Anggara sebagai seniman debus tadi, ORI juga memberikan empat penghargaan lainnya.

Antara lain H. Apih A. Gojali sebagai Kreator, Dani Mishan Rakatau sebagai Penggagas, Acep Supriatna sebagai Pemrakarsa, Andri Holiludin sebagai Penyelenggara Pendukung dan Bupati Bandung H. Dadang M. Naser sebagai Penyelenggara Utama.

Ketua Umum PSB Dani Mishan Rakatau mengatakan, milangkala tahun ini bertujuan mewujudkan visi misi serta tujuan mulia keluarga besar PSB. Antara lain yaitu mengembangkan dan melestarikan seni tradisional kebudayaan nusantara, khususnya pencak silat dan seni debus pendekar PSB.

“Sejauh ini, PSB sudah memasuki generasi ketiga. Jumlah satuan latihan atau pengurus ada di tiap kecamatan. Anggota kami sudah mencapai puluhan ribu dari berbagai profesi, mulai usia 10 tahun hingga usia dewasa,” terang Dani Mishan di sela-sela acara yang didukung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung tersebut.

Perjalanan sejarah menurutnya, tak akan pernah berarti apa-apa bila tidak dipahami oleh generasi penerus. Malah sebaliknya, akan dipandang sebagai sebuah tragedi kemunduran paradigma berfikir, yang bisa juga dipandang kuno dan tidak modern.

“Kegiatan milangkala ini juga sebagai upaya memberi contoh kepada para generasi penerus bangsa, untuk berkreasi dalam melestarikan budayanya sendiri. Agar mereka memiliki rasa menyayangi dan menjadikan bekal kebanggaan untuk mencari jati diri positif. Sehingga akan bermanfaat bagi dirinya, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Disamping itu kami juga melaksanakan kegiatan bhakti sosial, dengan memberikan santunan kepada anak yatim piatu,” tutur Dani putera dari H. Apih A. Gojali Guru Besar PSB.

Sejarah kependekaran, lanjut Dani, tidak bisa lepas dari sejarah masuknya agama islam ke Indonesia. Menurutnya pendekar adalah salah satu implementasi dari para pejuang Islam. Pendekar dalam dirinya mempunyai jiwa kesatria, jiwa pembela, dan juga mengalir nilai-nilai kemanusiaan sejati.

“Pendekar juga selalu menunjukkan kepedulian terhadap sesama, semangatnya menggelora ketika melihat ketidak benaran, ketidak adilan dan ketidak manusiawian. Pendekar akan terpanggil ketika menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI,” lanjutnya.

PSB, tuturnya, adalah perguruan seni bela diri yang didalamnya mencakup pelatihan nepak kendang, pencak silat, seni bela diri pernafasan, seni ibing, dan seni tradisional debus. Pada tanggal 17 Agustus 1969, ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung sebagai salah satu budaya peninggalan leluhur bangsa yang berasal dari Jawa Barat dan Banten.

“Kami atas nama PSB mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Pemkab Bandung khususnya Pak Bupati. Karena selalu mendukung paguron kami, sehingga dapat terus berkiprah dalam melestarikan seni budaya. Khususnya pencak silat dan seni debus di Kabupaten Bandung dan Indonesia pada umumnya. Bahkan kami bertekad untuk berkiprah di dunia internasional,” tutup Dani Mishan.

Sementara itu Bupati Bandung H. Dadang M. Naser mengatakan, milangkala PSB merupakan tahun emas, sebagai momentum untuk dijadikan renungan bagi sebuah perguruan.

“Tentunya para pendekar, para pengurus dan seluruh anggota PSB, etika dan perilakunya selama ini cukup terjaga. Meski berilmu tinggi namun memiliki gerak rasa dan wiwaha seorang pendekar yang berbudi luhur,” ucap Bupati Dadang Naser.

Kondisi jaman saat ini yang mana memerlukan daya saing yang sehat, namun dengan tetap memelihara warisan leluhur, diabadikan dengan seni dan bela diri yang dipelihara dan diajarkan di PSB.

“Ini aset bangsa, aset Kabupaten Bandung yang harus dipupuk bersama. Salah satu implementasi dari visi misi kami, dalam meningkatkan daya saing masyarakat Kabupaten Bandung,” pungkas bupati.

Sumber: Humas Pemkab Bandung

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menerima penghargaan atas opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung mengajak seluruh bunda literasi kecamatan, desa atau kelurahan