‘SAPU NYERE’ CIWIDEY UNTUK KABUPATEN BANDUNG BERSIH SAMPAH 2020

Kamis, 22 Maret 2018

PENINGKATAN kualitas lingkungan merupakan salah satu prioritas
pembangunan yang masih sulit terwujud di Kabupaten Bandung. Salah satu
indikatornya adalah Sungai Citarum yang disebut sebagai sungai paling
tercemar di dunia.



Untuk menanggulanginya baik pemerintaah pusat maupun daerah telah
berupaya dengan merevitalisasi lahan mulai dari hulu sampai ke hilir
sungai, menguatkan regulasi pengolahan limbah industri, membersihkan
sampah di bantaran sungai dan juga berupaya merubah perilaku
masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.



Di tingkat kecamatan dan desa pun berbagai upaya dilakukan dalam skala
kecil berupa pengelolaan sampah. Antara lain dengan terus
mensosialisasikan kepada masyarakat untuk memilah sampah sejak dari
rumah. Menanggulangi sampah jenis organik dengan membuat LCO (Lubang
Cerdas Organik), dan jenis non organik yang dikelola melalui Bank
Sampah.



Pemerintah Kecamatan Ciwidey meluncurkan Bank Sampah bernama ‘Sapu
Nyere’ yang diresmikan langsung oleh Camat Ciwidey Karyadi Raharjo A.
Nugroho, A.P, M.Si dan dihadiri kepala desa se-kecamatan, Muspika,
Kepala KUA, para Kepala UPT, para kepala sekolah, penggerak PKK,
tenaga kesehatan serta tokoh masyarakat di halaman Kantor Kecamatan
Ciwidey, Selasa (20/3).



“Penamaan Bank Sampah ‘Sapu Nyere’ didasari filosofi bahwa sebuah
perubahan besar akan sangat sulit dilakukan oleh orang hebat sekalipun
jika ia seorang diri, tapi jika dilakukan secara Sabilulungan maka
sesuatu yang mustahil akan menjadi sangat mungkin, jadi kuncinya
disini adalah kebersamaan atau prinsip Sabilulungan sebagai roh
pembangunan Kabupaten Bandung,” ucap Camat Ciwidey.



Dalam peluncuran Bank Sampah ‘Sapu Nyere’ tersebut, Camat beserta para
kepala desa berkomitmen mendukung Program Kabupaten Bandung Bersih
Sampah 2020 yang dicanangkan Bupati Bandung H. Dadang M. Naser. Semua
stake holder Kecamatan Ciwidey telah mewujudkan dukungannya secara
komprehensif melalui pengumpulan sampah daur ulang dan sampah plastik.



“Bupati telah menyebut akan meningkatkan besaran ADPD (Alokasi Dana
Perimbangan Desa) bagi desa yang Perdes-nya (Peraturan Desa) yang
mengatur tentang Pengelolaan Sampah di TPST (Tempat Pengelolaan
Sampah Terpadu). Sampah, dari sebuah masalah akan menjadi berkah jika
masyarakat mau mengelolanya. Kami jajaran pemerintah Kecamatan Ciwidey
berkomitmen mendukung Program Pak Bupati secara komprehensif, dan kami
sudah melangkah,” tegas Karyadi.



Langkah yang ia maksud antara lain dicanangkannya "Zero Waste Card"
terhadap para kader Posyandu di seluruh desa untuk melaksanakan
pemilahan sampah di rumahnya masing-masing dan membawa sampah serta
dicatat yang nantinya bisa digunakan sebagai dana sehat Posyandu,
kemudian menjadikan Desa Panyocokan sebagai Pilot Project pengolahan
sampah plastik menjadi paving block, Desa Panundaan sebagai Pilot
Project pelayanan administrasi desa berbasis pengelolaan sampah
plastik, dan SDN Nanjung sebagai prototype sekolah sehat dan sekolah
lainnya bisa mencapai standar minimal berbasis lingkungan untuk
mewujudkan Sekolah Adiwiyata.



“Sampah yang terkumpul di kantor desa, pelayanan posyandu, sekolah dan
juga dari pegawai di kantor kecamatan akan dikumpulkan di Bank Sampah
‘Sapu Nyere’ ini. Pengelolaannya kami serahkan kepada pegawai yang
ditunjuk kemudian nanti TKM (Tenaga Kerja Mandiri) Desa Panyocokan
akan mengolah sampah plastik ini menjadi barang yang berhasil guna
yaitu paving block,” urainya.



Kepala Desa Panundaan Kecamatan Ciwidey Asep Ma’mun A., S.Pd., M.Si
mengaku pihaknya telah memulai langkah dukungan terhadap program
Kabupaten Bandung Bersih Sampah 2020 ini.



“Setiap warga yang melakukan pelayanan administrasi baik itu pembuatan
KTP, KK, Kenal lahir, NA dan lain-lain diwajibkan membawa sampah jenis
plastik minimal ½ kg. Bahkan iuran desa untuk pengurusan penerbitan
SPPT PBB (Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang – Pajak Bumi dan
Bangunan) pun kami gratiskan dan menggantinya dengan kewajiban serupa,
dan itu sudah kami muat dalam Perdes, ini kami lakukan untuk
memperbanyak kuantitas pengurangan sampah plastik, khususnya di Desa
Panundaan,” ujar Asep Ma’mun.



Meskipun demikian Asep menyebut masih terkendala masalah alat
transportasi dan tempat penyimpanan sampah-sampah yang dikumpulkan
tersebut.



“Untuk sementara ini sampah yang terkumpul langsung kami jual kepada
pengepul atau kepada para pengembang yang bersedia menampung sampah
jenis non organik. Kami masih terkendala alat transportasi dan juga
penyediaan TPST-nya,” sebut Kades Panundaan.



Paving Block, Inovasi Baru Pemanfaatan Sampah Plastik



TKM binaan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bandung bekerjasama
dengan Warung Teknologi (Wartek), komunitas kreatif dari Kecamatan
Cimaung, mengembangkan pengelolaan sampah non organik menjadi paving
block. Kang Akib selaku Ketua Tim TKM menjelaskan proses pembuatan
limbah plastik sampai menjadi produk paving block ini.



“Kami bekerjasama dengan Wartek Cimaung, membuat paving block berbahan
dasar plastik dengan menggunakan tiga macam mesin yaitu mesin
pencacah, mesin pendaur ulang dan mesin pencetak,” ujar Kang Akib.



Sampah plastik yang telah dikumpulkan dimasukkan ke dalam mesin
pencacah sehingga menjadi biji-biji plastik. Biji-biji plastik
tersebut dibersihkan dan dikeringkan untuk kemudian dimasukkan ke
dalam mesin pendaur ulang untuk dibakar (dilelehkan) dengan suhu
mencapai 300 derajat celsius.



“Setelah didaur ulang kita masukkan bahan ke dalam mesin pencetak
paving block, untuk satu buah cetakan dibutuhkan 80% atau 20 kg
plastik dan 20% atau sekitar 4 kg pasir wahangan (pasir sungai), dan
dibutuhkan total waktu sekitar 30 menit sampai jadi satu produk,”
jelas Akib.



Kapasitas mesin masih kecil sehingga hanya bisa memproduksi maksimal
20 buah saja dalam sehari sehingga belum bisa memproduksi secara
massal. Namun Akib optimis produk ini bisa bersaing dengan paving
block konvensional karena memiliki kualitas yang bisa diunggulkan.



“Meskipun produksinya belum bisa massal karena terkendala kapasitas
mesin yang kecil namun kami optimis dengan produk ini. Paving block
berbahan dasar plastik ini kualitasnya sangat bagus, anti pecah dan
anti licin. Anti pecah karena mengandung alloy, dan disaat hujan anti
licin karena mengandung pasir,” Akib meyakinkan.



Sebagai pengelola, Akib menyatakan akan menampung segala jenis sampah
non organik. Selain jenis plastik, sampah berbahan dasar kaca pun akan
ditampungnya.



“Biasanya masyarakat bingung membuang sampah kaca dari pecahan piring,
gelas atau bola lampu. Kami akan tampung juga karena bahan dasar kaca
bisa kami manfaatkan juga sebagai pengganti pasir sungai tadi, malah
kualitas dari paving block akan semakin baik dengan menggunakan bubuk
kaca. Untuk kayu bekas, kertas kardus yang sudah tidak dipakaipun akan
kami tampung sebagai bahan bakar untuk mesin pendaur ulang,” pungkas
Akib.

Sumber: Press Release Bagian Kominfo Setda

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Rangkaian Millenial Road Safety Festival (MRSF) 2019, yang ditandai dengan Pataka Relay, kali ini be
Adanya sedimentasi dan penyempitan di bagian hilir Sungai Cilember di Kelurahan Melong dan Cimahi Te