*Kemarau Panjang, Pemkab Bandung Berupaya Selamatkan Lahan Tanam*

Senin, 30 September 2019

Akibat kemarau panjang, berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, salah satunya dalam menyelamatkan standing corp (lahan tanam). Upaya tersebut terus dilakukan sejak ditetapkannya status tanggap darurat, yaitu melalui Keputusan Bupati (Kepbup) Bandung Nomor 365/Kep.444-BPBD/2019) pada Agustus lalu.

Kepada Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Bandung H. A. Tisna Umaran mengatakan, jajarannya terus berjibaku agar standing corp yang memiliki sumber air dapat terselamatkan.

“Kalau tanaman dalam masa jelang panen, itu relatif aman. Bahkan kondisi lahan yang kering, justru akan mendorong produktivitas. Tapi di sisi lain, kita juga melakukan percepatan tanam,” ucap Kadistan saat menjadi salah satu narasumber dalam acara Ngawangkong Bari Ngopi di Kawasan Taman Uncal Soreang, Jum’at (27/9/2019). Tampil narasumber lainnya, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung H. Akhmad Djohara.

Kadistan mengambil contoh di kelurahan Wargamekar Kecamatan Baleendah, yang saat ini tengah dilakukan gerakan percepatan tanam. Pihaknya menargetkan percepatan 150 hektar, sebagai upaya untuk mendapatkan harga jual yang tinggi.

“Apabila bisa dilakukan penanaman, saya pikir nanti pada saat panen akan memperoleh harga yang sangat bagus. Secara merata wilayah Jawa Barat masih dilanda kekeringan, akibatnya jumlah area tanam relatif berkurang sementara kebutuhan tetap tinggi. Sehingga jika ada kelompok tani yang masih punya sumber air, kemudian sudah panen dan ingin melakukan percepatan tanam, kita akan dukung dan dorong dengan bantuan alat dan sarana lainnya,” tutur Tisna Umaran.

Di area sawah yang masih memiliki sumber air, ia mendorong komoditas yang mempunyai nilai ekonomi. “Lakukanlah sekarang untuk menanam tanaman yang umurnya pendek. Misalnya sayuran dataran rendah, kemudian palawija seperti sosin, daun bawang dan kacang panjang. Tanaman tersebut umurnya relatif pendek, menanamnya relatif sedikit sehingga akan menjadi penghasilan yang menguntungkan bagi petani,” imbau Tisna.

Selain sawah, seluruh komoditas perkebunan dan hortikultura pun terkena dampak kekeringan. Namun adanya kemarau ekstrim, menurut Tisna, dapat merangsang pembuahan pada tanaman. Kondisi kering, juga diperlukan untuk tanaman tahunan, buah-buahan dan tanaman perkebunan.

“Pembuahan di musim kemarau lebih bagus, karena tanaman yang stres akan melakukan perlawanan dengan cara bereproduksi. Jadi kemarau akan memberikan rangsangan untuk mengeluarkan bunga dan buah, hasilnya akan lebih bagus,” jelas dia.

Ia mencontohkan tanaman kopi. Seusai panen terjadi kemarau ekstrim, dan pada saat musim hujan akan terjadi pembungaan. “Jadi pada musim yang akan datang, bisa terjadi percepatan panen. Termasuk dari segi produktivitasnya, juga akan lebih meningkat,” pungkasnya.

Sementara itu Kalak BPBD Akhmad Djohara menguraikan, sampai saat ini pihaknya telah menyalurkan kurang lebih sebanyak 995.000 liter air bersih.

“Per tanggal 26 September 2019, jajaran kami telah mendistribusikan 995.000 liter air bersih untuk warga terdampak kekeringan, yaitu di 23 kecamatan,” terang Kalak BPBD dalam acara yang digagas Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Bandung tersebut.

Ia pun merinci daerah yang telah terdistribusi air bersih di 23 kecamatan tersebut. Antara lain di Kecamatan Banjaran (Desa Tarajusari, Ciapus dan Sindangpanon), Kutawaringin (Desa Cilame, Kutawaringin dan Kopo), Pameungpeuk (Desa Rancatungku, Bojongkunci, Langonsari, Sukasari dan Bojongmanggu), Cangkuang (Desa Tanjungsari, Jatisari dan Nagrak) dan Pasirjambu (Desa Cibodas, Tenjolaya dan Pasirjambu).

Berikutnya Kecamatan Baleendah (Desa Andir, Kelurahan Wargamekar, Manggahang dan Baleendah), Pacet (Desa Maruyung dan Mandalahaji), Arjasari (Desa Patrolsari, Wargaluyu, Mangunjaya, Lebakwangi, Baros dan Pinggirsari), Katapang (Desa Cilampeni dan Katapang), Ciwidey (Desa Rawabogo, Panyocokam dan Nengkelan), Paseh (Desa Tangsimekar, Cipedes, Sukamanah dan Cipaku), Margaasih (Desa Lagadar), Cicalengka (Desa Cikuya, Babakan Peuteuy, Cicalengka Kulon dan Narawitan).

“Di Kecamatan Ibun (Desa Karyalaksana), Cikancung (Desa Cihanyir dan Ciluluk), Cileunyi (Desa Cibiru Wetan dan Jajaway), Solokanjeruk (Desa Bojong Emas), Majalaya (Desa Sukamukti), Dayeuhkolot (Kelurahan Dayeuhkolot), Ciparay (Desa Bumiwangi dan Ciheulang), Nagreg (Desa Citaman), Rancaekek (Desa Linggar) dan Kecamatan Soreang (Desa Pamekaran dan Cingcin),” rinci Akhmad Djohara.

Sementara itu empat kecamatan lainnya yang belum tersentuh, antara lain Kecamatan Margahayu, Pangalengan, Cilengkrang dan Cimenyan. Sedangkan Kecamatan Bojongsoang, Kertasari, Rancabali dan Cimaung tidak terdampak kekeringan.

“Alhamdulillah sebanyak 44.900 Kepala Keluarga (KK) dan 126.857 jiwa sudah merasakan manfaatnya. Sampai saat ini kami masih terus melakukan distribusi air bersih, bekerjasama dengan Disperkimtan (Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan), Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan), PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), PMI (Palang Merah Indonesia) dan AMCF (Asia Muslim Charity Foundation),” pungkas Akhmad Djohara.

Sumber: Humas Pemkab Bandung

BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Momentum Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober, dimaknai Bupati Bandung H.
Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, S.H, S.Ip, M.Ip meninjau dua titik desa terdampak bencana angin k