Fasilitas Wilayah/Infrastruktur

Rabu, 11 Mei 2016

Suatu fasilitas wilayah dan infrastruktur menunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan ketersediaannya (availability) dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar-wilayah. Infrastruktur adalah penunjang daya saing daerah dalam hubungannya dengan ketersediaan (availability) fasilitas untuk mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai sektor di daerah dan antar-wilayah. Semakin lengkap ketersediaan wilayah/infrastruktur, semakin kuat dalam menghadapi daya saing daerah.

Gambaran umum kondisi daya saing daerah terkait dengan fasilitas wilayah/infrastruktur dapat dilihat dari aksesibilitas daerah, penataan wilayah, fasilitas bank dan non bank, ketersediaan air bersih, fasilitas listrik, ketersediaan restoran dan rumah makan serta ketersediaan penginapan. Namun demikian pembahasan berikut ini hanya meliputi infrastruktur yang memiliki peranan vital di Kabupaten Bandung.

a. Aksesibilitas Daerah
1) Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan

Rasio panjang jalan terhadap jumlah kendaraan merupakan salah satu indikator penting aksesibilitas daerah yang digunakan untuk melihat ketersediaan sarana jalan terhadap jumlah kendaraan dalam rangka memberikan kemudahan/akses bagi seluruh masyarakat dalam melakukan segala aktivitas di semua lokasi dengan kondisi dan karakteristik fisik yang berbeda. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan perekonomian suatu daerah menyebabkan jumlah perjalanan/mobilisasi yang dilakukan setiap individu semakin meningkat. Oleh karenanya kebutuhan akan transportasi umum akan semakin tinggi. Meningkatnya kebutuhan transportasi harus disertai dengan pengembangan sarana dan prasarana transportasi (kendaraan, jalan dan lingkungan).

Ketersediaan sarana jalan terhadap jumlah kendaraan di Kabupaten Bandung pada tahun 2011 mencapai 1:283,2 yang berarti bahwa setiap panjang jalan sepanjang 1 km dapat diakses kendaraan baik kendaraan roda 4 maupun roda 2 sebanyak 283 kendaraan. Kondisi ini berbeda dengan kondisi pada tahun 2010, dimana ketersediaan sarana jalan terhadap jumlah kendaraan mencapai 1:843 yang berarti bahwa setiap panjang jalan sepanjang 1 km dapat diakses kendaraan baik kendaraan roda 4 maupun roda 2 sebanyak 843 kendaraan. Kondisi di atas menunjukkan bahwa jumlah kendaraan pada tahun 2011 mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2010. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

2) Jumlah kendaraan umum per jumlah penduduk

Ketersediaan kendaraan umum yang dapat diakses oleh seluruh penduduk merupakan salah satu faktor penting dalam hal aksesibilitas daerah.Ketersediaan kendaraan umum ini harus sesuai dengan kebutuhan yaitu jumlah penduduk di Kabupaten Bandung.

b. Ketersediaan Air Bersih
1) Ketersediaan Air Bersih

Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan ketersediaan air bersih salah satunya dapat dilihat dari persentase jumlah rumah tangga yang menggunakan air bersih.Air bersih (clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak. Sumber air bersih dapat dibedakan atas: ledeng (perpipaan), sumur lindung, sumur tidak terlindung, mata air terlindung, mata air tidak terlindung, sungai, air hujan, air kemasan, pompa dan sumber air lainnya.
Pada tahun 2012, jumlah rumah tangga yang menggunakan air bersih di Kabupaten Bandung sebanyak 620.379 rumah tangga atau mencapai 71,67% dari total jumlah rumah tangga yang ada di Kabupaten Bandung, yaitu terdiri dari jumlah pengguna air bersih bersumber dari ledeng sebanyak 151.049 rumah tangga, sumur lindung sebanyak 165.751 rumah tangga, sumur tidak terlindung sebanyak 18.344 rumah tangga, mata air terlindung sebanyak 143.129 rumah tangga, mata air tidak terlindung sebanyak 19.077rumah tangga, air kemasan sebanyak 50.102 rumah tangga, pompa sebanyak 110.348 rumah tangga, dan air lainnya sebanyak 245.244 rumah tangga. Secara lengkap mengenai persentase jumlah rumah tangga yang menggunakan air bersih di Kabupaten Bandung selama kurun waktu tahun 2009-2013 terdapat pada tabel di subbab berikutnya.

2) Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih

Air bersih(clean water) adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi
syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak. Sementara air minum (drinking water) adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002). Sumber air bersih dapat dibedakan atas air hujan, air sungai dan danau, mata air, air sumur dangkal, dan air sumur dalam.Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut.

c.

Fasilitas Listrik

Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Bila tenaga listrik telah dicapai pada suatu daerah atau wilayah maka kegiatan ekonomi dan kesejateraan pada daerah tersebut dapat meningkat. Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan fasilitas listrik salah satunya dapat dilihat dari persentase jumlah rumah tangga yang mengunakan listrik.
Pada tahun 2013 jumlah rumah tangga yang telah menggunakan listrik sebanyak 601.564rumah tangga atau mencapai 68,78% dari jumlah total rumah tangga yang ada di Kabupaten Bandung. Berikut adalah gambaran secara lengkap mengenai persentase jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik selama kurun waktu 2009-2014.

Sumber : RKPD Kabupaten Bandung Tahun 2016
BERLANGGANAN
BERITA LAINNYA
Rencana reaktivasi jalur kereta api ke Ciwidey, oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar
“September adalah bulan membaca dan tanggal 14 merupakan hari kunjungan perpustakaan, ayo data